MEDIARAKYAT.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Brawijaya (UB) Kediri mengolah limbah bonggol nanas menjadi ecoenzyme di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri pada Jumat (7/8/2026). Inovasi ini dihadirkan untuk menekan volume sampah organik serta menyediakan alternatif penyubur tanaman yang ramah lingkungan bagi masyarakat setempat.
Langkah pemanfaatan limbah organik tersebut menyasar dua kelompok penggerak utama masyarakat desa, yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari Kelud serta pengurus PKK Desa Babadan. Tim mahasiswa KKN yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari Afandi, Anggun Maulidia, Dhea Risty Fitrianingtyas, Fitri Mayasari, Windyana Saffa Ramadhani, Fachrul Tio Saputra, Dea Dwi Novitasari, Nicholas Thio Sianturi, Alsya Yesika Faradita, Tyas Ardhiningsih, Ahmad Hakim Mustaqimy, dan Achmad Syarifudin.
Mengubah Limbah Nanas Menjadi Cairan Multiguna
Desa Babadan dikenal luas sebagai salah satu wilayah sentra perkebunan nanas sekaligus komoditas peternakan sapi perah di wilayah Kecamatan Ngancar. Sisa hasil panen berupa bonggol nanas berpotensi membusuk dan mencemari lingkungan jika tidak dibendung, mengingat pemanfaatannya selama ini hanya sebatas pakan ternak pascacacah menggunakan mesin pencacah.
Proses pembuatan ecoenzyme sendiri mengandalkan kombinasi bahan organik, gula, dan air yang difermentasi secara anaerobik selama kurun waktu 90 hari. Hasil akhir fermentasi tersebut memiliki fungsi beragam, mulai dari pendamping pupuk organik cair, formula penghilang bau tak sedap pada kandang ternak, hingga cairan pembersih perabotan dan lantai rumah tangga.
“Melalui program ini, limbah seperti bonggol nanas yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dapat diolah menjadi ecoenzyme sehingga memiliki nilai guna yang lebih tinggi,” kata Dosen Pendamping KKN UB Kediri, Septian Maulana Purnama, S.P., M.P., MBA, Jumat (7/8/2026).
Salah satu anggota tim KKN PSDKU UB Kediri juga menekankan bahwa pembuatan cairan ini tidak menuntut biaya operasional yang mahal, sehingga sangat efisien diterapkan oleh warga desa.
“Pemanfaatannya pun beragam, mulai dari sebagai pendamping pupuk organik cair, penghilang bau kandang, hingga pembersih kerak kamar mandi. Dengan usaha yang minim, manfaat yang diperoleh justru sangat besar, sehingga ecoenzyme sangat cocok diterapkan pada skala rumah tangga,” kata anggota KKN PSDKU UB Kediri, Afandi, Jumat (7/8/2026).
Dukungan Sektor Pertanian dan Peternakan Desa
Inovasi pengelolaan sampah organik ini mendapat respons positif dari pengurus kelembagaan desa setempat karena mampu menjawab kendala kebersihan dan efisiensi biaya perawatan kandang.
“Selain itu, hasil fermentasinya dapat dimanfaatkan untuk membersihkan berbagai area rumah, seperti lantai dan kamar mandi, serta digunakan sebagai penghilang bau kandang ternak,” kata Ketua PKK Desa Babadan, Puji Astutik, Jumat (7/8/2026).
Sementara itu, sektor pertanian yang selama ini bergantung pada pemeliharaan kualitas tanah juga memperoleh dampak langsung dari pengaplikasian produk hasil fermentasi bonggol nanas tersebut.
“Penggunaannya juga dapat membantu memperbaiki kondisi tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman nanas,” kata Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari Kelud, Suprianti, Jumat (7/8/2026).
Konteks & Catatan Redaksi
Pemanfaatan sisa hasil perkebunan menjadi produk bernilai tambah seperti ecoenzyme merupakan respon strategis atas penumpukan limbah organik di sentra pertanian skala daerah. Keberadaan bonggol nanas yang melimpah kerap terbuang sia-sia atau terbatas penggunaannya, sehingga pengolahan berbasis fermentasi dapat mencegah kerusakan lingkungan akibat pembusukan terbuka.
Secara jangka panjang, reduksi ketergantungan pada pemakaian pupuk kimia sintetis berpotensi memulihkan kesuburan struktur tanah serta menekan biaya operasional para petani. Pelaksanaan program pengabdian akademis berbasis pemberdayaan kelompok tani dan PKK ini sekaligus menguatkan prinsip kemandirian masyarakat serta mendukung pencapaian indikator pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) secara konsisten.
👁 792 kali dibaca










