Home / Politics / Cegah Karhutla Berulang, Pakar UMM Desak Penguatan Sistem – Media Rakyat

Cegah Karhutla Berulang, Pakar UMM Desak Penguatan Sistem – Media Rakyat

MEDIARAKYAT.co.id – Pakar Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM. mendesak pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara terstruktur pada Kamis (20/8/2026). Langkah tersebut dinilai sangat krusial mengingat bencana karhutla terus berulang setiap tahun dan dipicu oleh kombinasi faktor alam serta aktivitas manusia.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang marak terjadi di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan perlunya evaluasi mendasar terhadap strategi penanganan yang ada saat ini. Menurut Tatag, fenomena karhutla tidak semata-mata dipicu oleh faktor alamiah seperti cuaca panas, kondisi vegetasi yang kering, dan tiupan angin kencang yang mempercepat penyebaran lidah api. Faktor kelalaian maupun kesengajaan aktivitas manusia juga memegang peranan besar dalam memicu munculnya titik api baru.

Ia menekankan bahwa bencana yang terus berulang pada siklus tahunan yang sama seharusnya memberikan waktu dan kesempatan yang cukup bagi otoritas terkait untuk menyusun kerangka pencegahan yang matang sebelum memasuki masa krisis.

“Jika sudah berbicara pola yang berulang, kejadian kebakaran tiap tahun pihak yang berwajib seharusnya punya kesempatan untuk pencegahan,” ujar Pakar Kehutanan UMM Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., Kamis (20/8/2026).

Tiga Aspek Utama Penguatan Pencegahan Karhutla

Pemerintah diimbau untuk tidak lagi berfokus pada upaya reaktif seperti pemadaman saat krisis kobaran api sudah telanjur meluas. Prioritas utama penanganan bencana ini harus digeser sepenuhnya pada tindakan preventif sebelum titik api bermunculan di kawasan rawan.

Tatag memaparkan bahwa sistem pencegahan yang efektif harus mengintegrasikan tiga aspek utama, yaitu penambahan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan teknologi modern, serta pelibatan aktif masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Dari sisi sumber daya manusia, keterbatasan jumlah personel di lapangan kerap menjadi kendala utama saat pengawasan kawasan hutan dan lahan yang sangat luas. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menambah personel terampil yang tidak hanya disiapkan untuk bertugas di garis depan pemadaman, tetapi juga didorong untuk melakukan pemantauan rutin dan edukasi secara langsung.

“Kalau pemerintah sudah berbicara pada aspek mencegah, pelibatan SDM-nya harus banyak. Manusianya harus banyak, yang peduli itu harus banyak,” kata Tatag, Kamis (20/8/2026).

Pemanfaatan Teknologi Early Warning System

Selain penguatan personel di lapangan, integrasi teknologi menjadi elemen pendukung yang tidak kalah penting. Pemanfaatan sistem peringatan dini atau early warning system dinilai mampu membantu mendeteksi potensi maupun kemunculan titik api awal secara cepat dan akurat.

Dengan adanya dukungan teknologi deteksi dini, para petugas di lapangan dapat segera mengintervensi lokasi rawan sebelum kobaran api membesar dan meluas ke area pemukiman atau hutan produksi yang lebih luas.

“Dengan SDM yang terbatas, pemerintah harus didukung teknologi. Meskipun pada akhirnya tetap membutuhkan tenaga manusia untuk turun tangan, setidaknya teknologi dapat mempermudah pekerjaan manusia,” ujar Tatag, Kamis (20/8/2026).

Edukasi Berkelanjutan Bagi Masyarakat Sekitar Hutan

Upaya fisik dan teknologis tersebut harus diimbangi dengan pendekatan sosial melalui edukasi masif kepada warga yang berdomisili di sekitar kawasan hutan dan lahan. Edukasi harus berjalan secara berkelanjutan agar masyarakat memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko dari aktivitas sepele yang berpotensi memicu timbulnya api.

Kondisi cuaca ekstrem yang kering dan panas menyebabkan banyaknya penumpukan vegetasi kering yang bertindak sebagai bahan bakar alami. Dalam situasi rentan seperti ini, gesekan atau pembakaran kecil dapat dengan cepat membesar akibat dorongan angin kencang.

“Dengan pola karhutla yang terus berulang, upaya pencegahan dinilai tidak seharusnya bersifat reaktif. Pemerintah perlu memanfaatkan data dan pengalaman dari kejadian tahun-tahun sebelumnya untuk memetakan wilayah rawan, memperkuat kesiapsiagaan, serta memastikan personel dan teknologi telah tersedia sebelum kebakaran terjadi,” kata Tatag menutup keterangannya, Kamis (20/8/2026).

Konteks & Catatan Redaksi

Kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman tahunan berulang di Indonesia yang membawa dampak serius terhadap stabilitas ekosistem, kualitas udara, hingga perekonomian masyarakat. Mengubah fokus penanganan dari sekadar pemadaman darurat (reaktif) menjadi pencegahan dini yang terstruktur (preventif) menjadi kunci utama dalam memutus rantai krisis lingkungan ini.

Penguatan kapasitas personel di lapangan, pemanfaatan teknologi pemantauan jarak jauh secara presisi, serta pemberdayaan masyarakat desa hutan merupakan langkah strategis jangka panjang. Keberhasilan mitigasi karhutla tidak hanya menekan kerugian finansial akibat bencana, tetapi juga menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia di masa depan.

👁 968 kali dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *