MEDIARAKYAT.co.id – Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo memimpin Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Auditorium Mpu Sindok, Kompleks Kantor Bupati Pasuruan, pada Jumat (7/8/2026). Peringatan tersebut dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan menegaskan bahwa kehadiran orang tua dalam lingkup domestik tidak lagi sebatas memenuhi kebutuhan materi anak. Era transformasi digital menuntut orang tua untuk hadir secara emosional dan proaktif memantau perkembangan mental serta perilaku anak secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Pasuruan menyoroti keterlibatan sosok ayah dalam proses pengasuhan anak di Jawa Timur yang terbilang masih cukup rendah. Data pengasuhan menunjukkan tingkat keterlibatan ayah di wilayah Jawa Timur baru mencapai sekitar 23 persen, sehingga memerlukan dorongan kebijakan nyata dari pemerintah daerah.
“Jangan sampai orang tua kalah sama anak. Orang tua sekarang harus adaptif, bisa menyesuaikan dengan kebiasaan anak,” ujar Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Jumat (7/8/2026).
“Dalam keluarga, peran ayah dan ibu sama-sama penting. Tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, ayah juga perlu hadir dan memberikan kehangatan bagi keluarga,” kata Rusdi Sutejo, Jumat (7/8/2026).
Dispensasi ASN dan Pembatasan Perangkat Digital
Guna mengintervensi rendahnya keterlibatan figur ayah, Pemkab Pasuruan mengeluarkan kebijakan dispensasi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pasuruan. Kebijakan ini memberikan ruang bagi para ASN untuk mengantar anak mereka ke sekolah sebagai upaya membangun ikatan emosional dan kedekatan antara ayah dan anak.
Selain kebijakan ASN, dorongan penguatan peran keluarga juga disampaikan oleh organisasi kewanitaan daerah. Orang tua diminta aktif mendampingi anak dalam menggunakan perangkat elektronik agar gawai tidak menggantikan posisi orang tua sebagai pendidik utama.
“Harus ada momen waktu bermain dan belajar, jangan sampai kalah sama anak sendiri. Saya juga berharap momentum Harganas menjadi titik balik bagi setiap keluarga untuk menjadi lebih tangguh, harmonis dan sejahtera,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pasuruan Merita Rusdi Sutejo, Jumat (7/8/2026).
Apresiasi Pembangunan Keluarga dan Program Nasional
Peringatan Harganas ke-33 ini turut diwarnai dengan penyerahan berbagai penghargaan kepada wilayah kecamatan dan lembaga yang dinilai sukses mendorong program pembangunan keluarga secara konsisten. Kecamatan Kraton, Winongan, Pasrepan, dan Lumbang menerima penghargaan atas pencapaian keberhasilan program Desa BERKELANJUTAN Kampung KB 2026.
Apresiasi serupa diberikan kepada lembaga pendidikan dan keagamaan di tingkat tapak. Penghargaan diserahkan kepada TAB PERSISTRI Pogar Bangil serta TPA Al Hidayah Desa Wrati yang berlokasi di Kecamatan Kejayan atas kontribusinya dalam pembinaan karakter anak.
Pada ajang yang sama, Kabupaten Pasuruan meraih penghargaan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Apresiasi tingkat nasional ini diberikan atas keberhasilan daerah dalam menjalankan program prioritas strategis, meliputi TAMASYA, GATI, SIDAYA, GENTING, dan program MBG sasaran 3B.
Catatan Redaksi: Urgensi Ketahanan Keluarga dan Pengasuhan Digital
Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 di Kabupaten Pasuruan mempertegas posisi keluarga sebagai benteng utama pertahanan sosial masyarakat. Penetrasi teknologi informasi yang masif di era digital membawa tantangan baru bagi pola pengasuhan anak. Rendahnya partisipasi ayah dalam pengasuhan yang berada di angka 23 persen di Jawa Timur mengindikasikan perlunya pergeseran budaya pengasuhan agar tidak lagi didominasi oleh peran ibu semata.
Kebijakan Pemkab Pasuruan yang memberikan dispensasi bagi ASN untuk mengantar anak sekolah serta penguatan Kampung KB merupakan langkah konkret berbasis kebijakan publik. Dampak jangka panjang dari penguatan peran institusi keluarga ini diharapkan mampu memperkokoh ketahanan keluarga, menekan risiko permasalahan psikososial pada anak, serta melahirkan generasi muda yang adaptif dan berkarakter di masa depan.
👁 504 kali dibaca










